LION AIR
Kalaulah ada sebuah organisasi bisnis di tanah air yang
pertumbuhannya tergolong sangat spektakuler, maka Lion Air boleh jadi
merupakan salah satu diantaranya. Didirikan pada tahun 2000 silam,
dengan hanya modal satu kali penerbangan per hari, kini mereka melayani
200 penerbangan per hari. Itu artinya, hanya dalam sepuluh tahun, volume
penerbangan mereka tumbuh sebanyak 200 kali atau 20,000%.
Tentu saja pendapatan bisnis Lion juga turut terbang mengangkasa.
Tahun 2009, total pendapatan mereka sekitar 6 trilyun (dan sekali lagi,
ini hanya dicapai dalam waktu yang relatif pendek, yakni hanya sepuluh
tahun. Tak banyak perusahaan di tanah air yang bisa menembus angka
penjualan 6 trilyun hanya dalam 10 tahun berdirinya). Jumlah penumpang
Lion tahun lalu menembus angka 13 juta, dan ini artinya menggusur jumlah
penumpang Garuda (hanya 8,3 juta), sebuah maskapai yang jauh lebih tua
usianya.
Ada beberapa poin mengenai strategi bisnis yang bisa diambil dari
kisah spektakuler Lion Air ini. Yang pertama, negara kepulauan seperti
Indonesia memang sebuah lokasi yang nyaris sempurna bagi kehadiran
sebuah bisnis penerbangan. Dan Lion Air memasuki pasar yang amat
menggiurkan itu dengan strategi bisnis yang tergolong baru pada zamannya
: low cost airline.
Melalui strategis bisnis low cost itulah, Lion Air kemudian mampu
mengejawantahkan tagline-nya yang brilian itu : we make people fly -
membuat setiap orang, mulai dari pedagang kain dari Ternate, ibu-ibu
rumah tangga dari Medan, petani jeruk dari Pontianak, atau mahasiswa
dari Papua, bisa punya kesempatan terbang menembus langit nusantara.
Catatan yang kedua, pertumbuhan bisnis yang fenomenal itu juga segera
disertai dengan strategi pembelian armada pesawat baru yang agresif.
Dunia penerbangan Asia sungguh tercengang, ketika Lion Air
mendeklarasikan akan membeli 178 pesawat Boeing seri terbaru, yakni 737 –
900 ER (extended range, body lebih panjang). Harap diketahui, harga
satu pesawat baru seri 737 – 900 itu adalah sekitar Rp 600 milyar.
(Berdasar estimasi, dana Rp 600 milyar itu akan balik modal hanya jika
pesawatnya telah dioperasikan sekitar 25 tahun. Ini memang bisnis jangka
panjang).
Dengan armada yang demikian masif, dan dengan harga tiket yang
kompetitif, Lion Air memang ingin terus terbang tinggi, termasuk
menguasai langit wilayah Asia (jadi bukan hanya Indonesia). Impian ini
mungkin bisa menjadi kenyataan jika, dan hanya jika, mereka melakukan
perbaikan dalam dua aspek kunci : manajemen keselamatan dan keramahan
pramugari.
Sebagai orang yang hampir tiap minggu pergi dengan pesawat udara (dan
jujur saja : naik pesawat adalah salah satu hal yang paling saya benci
karena saya takut ketinggian); maka saya melihat masih banyak ruang yang
harus diperbaiki oleh Lion Air dalam aspek keselamatan kerjanya.
Acap disana sini saya melihat bagian kecil pesawat yang kelihatannya
tidak dipelihara atau dirawat dengan rapi (pegangan kursi yang retak,
engsel bagasi yang sidah aus, sabuk pengaman yang macet; ban yang
gundul, speaker yang gemerisik suaranya…..). Hal-hal kecil semacam ini
biasanya indikasi masalah besar dikemudian hari. Lion Air harus segera
menaruh perhatian serius dan dana yang memadai untuk segera meningkatkan
mutu pemeliharaan pesawat dan keselamatan aramadanya. Jika tidak,
mereka mungkin bisa mengalami nasib tragis seperti Adam Air yang lenyap
ke laut itu.
Keramahan pramugari Lion Air saya rasa yang paling buruk di antara
maskapai lainnya. Benar, mereka perempuan muda yang segar nan cantik
rupawan, namun pelayanan dan keramahan mereka acap sungguh memilukan.
Mereka nyaris tak pernah menyapa para penumpang dengan “hati”, dengan
passion. Wajah mereka yang rupawan itu bagi saya sering jadi seperti
robot tanpa jiwa, tanpa soul. Pelayanan semacam itu tentu sebuah tragedi
jika terus dilanjutkan.
Kalau saja saya menjadi pengelola SDM di Lion Air, tentu saja
kompetensi pramugari semacam itu harus segera dirombak habis-habisan.
Mulai dari soal rekrutmen pramugrasi, pelatihannya hingga sistem
remunerasinya.
Kalau saja dua aspek itu, yakni aspek keselamatan kerja serta
kualitas layanan pramugrasi bisa dibenahi dengan radikal, maka Lion Air
pasti akan bisa terbang lebih tinggi. Dan cita-cita mereka untuk
menjadi penguasa langit Asia – dan bukan hanya Indonesia – mungkin bisa
menjadi kenyataan.
Pemesanan Tiket dapat dilakukan DISINI
(Website Resmi Lion Air)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar